Hujan dan Aku
Kemarin hujan turun dengan derasnya seolah bisa menghantam apa saja yang ada di hadapannya. Berhari-hari ia turun dan sempat kebingungan kapan dan bagaimana akan berhenti, sampai hujan itu melihat lantai yang tak basah.
Ketika bersimpuh di atas lantai, hujan itupun kembali turun dengan deras namun dengan beraturan dan tulus. Selang beberapa lama hujanpun bisa berpikir jernih. Lalu ia menyadari bahwa bunga yang ia siram dengan derasnya sebelumnya kini menjadi lebih indah, cuaca nampak cerah seakan tak terjadi apa-apa kemarin, dan pelangipun muncul. Seolah hujan menghalangi manusia untuk menikmati keindahan itu semua. Kadang hujanpun dianggap beban dan halangan karena mengganggu aktivitas seseorang.
Aku adalah hujan dan kau adalah bunga, cuaca cerah, pelangi, dan seorang yang terganggu itu. Aku melihat kau tampak sangat bahagia kini, tak nampak kesedihan diwajahmu, kau terlihat sangat bahagia.
Syukurlah pikirku.
Syukurlah hanya aku yang merasakan sesak itu.
Syukurlah kau bisa tertawa lepas dan tak ada lagi beban itu.
Sama seperti hujan, akupun pergi agar orang-orang takkan terhalangi rutinitasnya. Tapi ketahuilah aku selalu memperhatikanmu dalam diamku. Aku selalu khawatir jika kau sakit atau sedih atau sesuatu hal terjadi mengganggumu. Tapi, kini semuanya tak ku tunjukkan. Aku mampu menahannya dan bersikap dingin seolah sangat tak peduli. omong kosong memang istilah "aku bahagia jika kau bahagia" tanpa adanya sesak yang tak bisa diungkapkan. Lebai, puitis, baper, atau apalah istilah kekini-kiniannya terserah, tapi begitulah kenyataannya.
Kini aku sadar aku dan hujan memiliki kesamaan. Hujan bagi beberapa orang ialah beban ataupun pengganggu dan bagi kau, akupun seperti itu. Berbahagialah dengan kehidupanmu. Sungguh aku tak dendam, aku tak benci, karena aku tak mampu.
Berbahagialah dan kini saatnya akupun harus menentukan langkah sendiri, perlahan tak kan lagi menjagamu dari kejauhan. Meskipun amat teramat sangat sulit tapi harus tetap aku lakukan. Selamat tinggal semoga kita tak lagi dipertemukan dan terima kasih telah mengajariku berbagai hal.
jika masih ingat, temuilah aku kapanpun kau merasa tak dihargai dan membutuhkan pendengar. Aku akan selalu mendengarkan meski aku tak mengerti, setidaknya sejak dulu aku berusaha selalu ada.
Impianku ialah sebagai orang yang bermanfaat bukan untuk dimanfaatkan dan bukan sebagai beban.
Komentar
Posting Komentar